Luh luwih

Luh luwih adalah sebuah garapan tari dengan koreografer ni nyoman wati yg telah dipentaskan di tbs dalam rangka seribu bunga  taman budaya Surakarta. Dalam bahasa Bali Luh luwih berarti wanita yg baik dalam segala hal terutama yg menyangkut kepribadiannya. Wajah cantik bodi seksi, kulit mulus dan berbagai keindahan fisik lainnya tidak jaminan sebagai Luh luwih. Namun akan sangat lengkap mana kala keindahan fisik dan prilaku mencerminan sikap yang menyenangkan bagi siapa saja yg menyaksikannya.

Posted in artikel | Leave a comment

KARAWITAN TARI KARYA NYOMAN WINDA KAJIAN BENTUK DAN PENYAJIANNYA

Karawitan Tari Karya I Nyoman Winda

Kajian Bentuk Dan Penyajiannya

Oleh : I Ketut Saba S.Kar, M.Si

Pendahuluan

  1. Latar belakang

Bali sebagai salah satu pulau yang relatif kecil jika dibandingkan dengan pulau jawa, Sumatra dan lainnya telah banyak dikenal di berbagai belahan dunia. Begitu mendengar nama Bali biasanya orang akan membayangkan berbagai aktivitas kemasyarakatan yang dilakukan masyarakat setempat dalam wadah budaya lokal yang relatif berbeda dengan aktivitas yang dilakukan masyarakat lain. Budaya seperti yang dijelaskan Koentjaraningrat memiliki tujuh unsur universal salah satu diantaranya kesenian  (Koentjaraningrat 1997 : 2). Harmoko dalam rangka seminar sehari dengan judul Menelisik Sejarah Pajang di gedung teater besar ISI Surakarta mengatakan budaya adalah meliputi berbagai aspek kehidupan. Lebih lanjut ditekankan masyarakat hendaknya mempertebal rasa yang bertolak dari aspek budaya untuk menumbuhkan prilaku yang baik bijak dan benar. (Harmoko, 16 Januari 2010)

Di sisi lain Sri Hastanto berpendapat bahwa kuliner, busana adat juga termasuk diantaranya yang disebut karya budaya (materi kuliah semester VI Jurusan Karawitan ISI Surakarta 2008 / 2009). Tentang budaya lihat juga Bandem 2003 : 1 makalah seminar nasional seni dan identitas bangsa  Surabaya 22 juni 2003. Semua pendapat diatas tampak saling melengkapi dan pada kenyataannya tidak ada satupun masyarakat yang luput dari unsur kebudayaan dimanapun mereka berada. Unsur kebudayaan tersebut akan selalu mengendap dalam masyarakat pemiliknya lewat kegiatan sosial dan karya manusia. Berbicara kebudayaan sebenarnya sama dengan berbicara tentang hakekat manusia ( C.A. Van peursen, 1988 : 9). Dari sejumlah unsur budaya tersebut diatas, dalam tulisan ini akan difokus salah satu unsur budaya yang lebih spesifik yaitu bagian dari kesenian khususnya seni pertunjukan gamelan dalam bentuk karawitan tari  karya seniman muda I Nyoman Windha (selanjutnya di sebut Windha saja). Bali seperti daerah-daerah lain di Indonesia banyak menyimpan ragam kesenian di antaranya berupa puluhan barung gamelan yang masing-masing mempunyai ciri khas dalam wujud fisik. Teknik tabuhan, pola tabuhan, fungsi maupun repertoar gendingnya. Salah satu gamelan Bali yang populer sampai saat ini adalah gamelan gong kebyar yaitu sebuah barungan yang banyak dipakai untuk mengiringi tari kebyar dan konser tradisi dan atau di Bali sering disebut kreasi baru terhadap gending-gending yang tercipta akhir-akhir ini. Informasi tentang gamelan gong kebyar dapat disimak dalam berbagai literatur salah satu diantaranya menjelaskan bahwa

Gamelan gong kebyar timbul di Singaraja (Bali utara) sekitar tahun 1915 dimana menurut keterangan I Gusti Bagus Sugriwa, lagu kebyar yang pertama diciptakan oleh I G.B,N Panji dari desa Bungkulan dan diikuti oleh Ngakan Kuta yang waktu itu berdomisili disana. Gamelan gong kebyar berlaras pelog 5 nada, dan bentuk lagu atau gending yang tercipta belakangan ini lebih bebas dari gending-gending pegongan klasik. kendati  pada bagian tertentu masih dipergunakan  hukum-hukum tabuh klasik. Tabuh klasik yang dimaksud komposisi tabuh yang telah memiliki bentuk /struktur tertentu diantaranya bentuk tabuh telu, tabuh pat, tabuh nem, tabuh kutus dan sebagainya. Fenomena belakangan ini repertoar gending gending klasik telah digarap dengan teknik /nafas kebyar yaitu penuh dengan variasi, hiasan, ritme, tempo. Atas dasar itu seniman tampak telah menemukan satu kebebasan dalam hal menggarap atau berkreativitas untuk mewujudkan komposisinya. (Baca ensiklopedi gamelan Bali karya I Made Bandem 1983 : 23,24)

Beberapa karya karawitan tari yang diwadahi perangkat gong kebyar ciptaan Windha menjadi subjek dalam  tulisan ini terutama karya-karya yang tersebar luas, di berbagai kantong kegiatan karawitan di Bali maupun di tempat lain. Sebelum membicarakan  karya-karya karawitan tari ciptaan Windha, nampaknya perlu penulis paparkan sekilas tentang Windha.

Winda lahir dari pasangan I Nyoman Kantun (bapak) dan Ni Nyoman Radi (ibu) yang keduanya telah almarhum masing-masing tahun 1994 dan 1998. Windha adalah dosen karawitan ISI Denpasar lahir tanggal 13 Juli 1956 di Banjar Kutri Gianyar pengampu mata kuliah analisa karawitan, dan  metode penciptaan. Karirnya dalam dunia karawitan khususnya karawitan Bali, baik sebagai pencipta maupun penyaji rasanya tidak perlu disangsikan. Sebagai sosok yang dilahirkan bukan dari keluarga seniman ternyata ia mampu berbuat banyak dalam dunia karawitan yang karya-karyanya tersebar luas di masyarakat Bali dan beberapa daerah di luar Bali bahkan di beberapa kantong kegiatan karawitan Bali di beberapa tempat di luar negeri. Dari kemampuan berolah karawitan yang dimilikinya tidak heran jika sejak tahun 1982, telah melanglang buana mengajar gamelan, di semua kabupaten di Bali dan beberapa tempat di luar Bali sampai luar negeri. Menurut penuturan Bapak Wayan Berata seorang empu karawitan Bali yang telah melahirkan segudang karya karawitan, maupun karawitan tari sebelum era Windha mengataka : Bahwa bakat atau potensi Windha telah muncul sejak menjadi siswa Kokar (Sekarang SMK) yang tamat tahun 1975. Setelah tamat, sering membantu Pak Berata mengajar gamelan di beberapa desa di Bali ( I Wayan Berata wawancara tgl 6 juli 2009 di Denpasar).

Pengalaman membantu sang guru dalam kapasitas yang cukup banyak, ternyata  meniupkan inspirasi dan memacu Windha untuk berolah karawitan yang lebih inten sehingga cara dan perilaku sang guru dapat diserap sebagai cara pembelajaran karawitan baik tehnik sebagai dasar keterampilan maupun penuangan materi kepada anak didiknya. Pengalaman serupa terus berlanjut dalam berbagai kesempatan baik sebagai dosen karawitan dalam mengampu mata kuliah karawitan tradisi maupun komposisi baru maupun dalam konteks  mengajar di beberapa kelompok karawitan.

Karya Windha

Sebagai seorang pangrawit dan pencipta berbagai jenis komposisi karawitan, Windha tidak hanya berkubang dalam kancah gong kebyar, namun hampir semua instrumen gemelan Bali dapat dimainkannya. Menurut pengakuannya kemungkinan hal ini yang membatu atau memberi kemudahan dirinya dalam menyusun komposisi  karawitan baik karawitan tari maupun konser karawitan dari berbagai jenis (tradisi, kontemporer). Karya cipta karawitan windha baik konser karawitan tradisi, kontemporer maupun iringan tari telah mencapai jumlah yang cukup signifikan yang diaransir dalam berbagai keperluan. Dalam kertas ini tidak akan penulis cantumkan seluruh karya windha yang telah dianalisa bentuk dan penyajiannya karena telah dimuat pada lampiran buku laporran penelitian. Berikut akan dipaparkan sekilas hasil kerja lapangan penulis sejak bulan Juni sampai Juli 2009 yang terkait dengan proses pengumpulan data-data karawitan tari yang telah penulis lakukan. Sejumlah karawitan tari yang disusun Windha ada beberapa yang paling populer dimasyarakat, dalam arti banyak yang menggunakannya diantaranya : Karawitan tari Sekar jagat, Siwanataraja, Belibis, Puspanjali, dan Cendrawasih. Data ini diperoleh dari pengamatan beberapa kelompok karawitan di beberapa tempat di Bali yang mengatakan karya karya tersebut digunakan sebagai materi dalam kelompoknya seperti Sekarjagat, Cenderawasih dan Puspanjali. Disamping itu dari hasil wawancara beberapa pangrawit dari beberapa  desa seperti Desa Sembung kecamatan mengwi Badung, beberapa pemilik Sanggar seperti sanggar Raja pala Krobokan, Sekar alit Singapadu, Sanggar Warini Denpasar dan beberapa kantong kegiatan karawitan di tempat lain dapat diprediksi juga melakukan yang serupa.

Alasan mengangkat karya Windha

Tidak dipungkiri bahwa sejumlah pengkarya atau seniman pencipta Karawitan Bali yang muncul di era windha  namun dalam kesempatan ini penulis tentukan windha, sebagai sasaran utama atas dasar pemikiran sepanjang pengetahuan penulis karya-karya karawitan windha paling banyak digunakan di berbagai kelompok karawitan di Bali dan juga dalam kelompok-kelompok karawitan di luar Bali baik dalam lembaga formal maupun non formal atau sanggar,  kelompok karawitan yang sifatnya musiman. Hasil survey penulis terhadap beberapa sekaha gong (kelompok karawitan) melalui orang-orang dari beberapa kabupaten di Bali, bahwa karya karawitan tari windha lebih banyak digunakan sebagai perbendaharaan kelompoknya baik untuk keperluan hajatan maupun untuk keperluan pentas pariwisata di Hotel, festival tari dan di tempat pertunjukan komersil lainnya. Dengan luasnya kapasitas penyebaran karya karawitan tari windha di berbagai kantong karawitan, timbul niat penulis untuk meneliti dan mengetahui penyebab dari populernya karya-karya windha di masyarakat sehingga diacu sebagian besar  kantong kesenian atau seni pertujujukkan di Bali. Itulah salah satu alasan penulis sementara mengangkatnya menjadi sasaran penulisan. Windha sebagai pencipta karawitan tari tentu tidak dapat bekerja sendiri tanpa ada yang diiringi, oleh karena itu beliau bekerja sama dengan  Swasti Wijaya Bandem yang juga dosen ISI Denpasar Jurusan tari sebagai menyusun tarinya. Menurut pengakuan Windha menyusun karawitan tari bersama Swasti Bandem tidak mengalami kesulitan yang berarti karenaa mereka selalu mengadakan pembicaraan secara matang /negosisasi ketika akan mulai berproses. Disatu sisi Windha diberikan konsep atau tema tari yang akan diciptakan, selanjutnya mereka berproses secara mandiri yang sekali waktu di cocokkan satu sama lai. Mereka dapat saling merasakan baik tari maupun karawitan, jika salah satu diantaranya merasa tidak sesuai dengan keinginanya, mereka akan mengadakan dialog saat itu juga yang akan diperbaiki atau diganti pada bagian tertentu yang dirasa belum cocok. (Winda wawancara 2 juni 2009 di Jl. Sekar Jepun Denpasar). Di samping alasan tersebut di atas, alur gending karya Windha dirasakan oleh banyak orang sangat enak sehingga mudah dipelajari dan banyak kelompok karawitan diberbagai desa menggunakan sebagai materi pentas dalam berbagai keperluan. Dalam kaitannya dengan persoalan-persoalan mencipta berbagai komposisi karawitan  dalam berbagai jenis kerja Windha, setidaknya artikel ini diharapkan akan melayangkan  informasi tentang beberapa hal tentang bagaimana awal Windha dalam menciptakan karawitan tari. Dilain pihak faktor apa saja yang mendorongnya untuk menciptakan karya karawitan tari. Dari kajian bentuk juga dapat di amati bahawa karya ciptanya tidak terlalu mempersoalkan kaidah kaidah bentuk secara paten harus sekian kempul sekian jemli dalam satu gongan, namun ebutuhan yang diiringi menjadi tujuan pokok. Ketika karya-karyanya telah tercipta dan telah dipatenkan terkait dengan tari karya Swasti Bandem sebagai mitra kerjanya, selanjutnya bagaimana karya-karya tersebut tersebar di masyarakat luas. Beberapa pernyataan tersebut adalah menjadi persoalan yang telah dijawab dalam laporan penelitian serta disinggung sekilas dalam artikel ini.

Bentuk karawitan tari Windha

Pengertian bentuk dalam artikel ini adalah bangun atau wujud yang ditampilkan seperti karya gending yang dapat dihayati atau didengarkan sehingga dapat menggugah berbagai rasa penghayatnya (KBI : 1999, 119),  Seperti umumnya bentuk karawitan tari sebagai garap karawitan yang terlibat dalam cabang seni lain / tari dalam kebiasaan kehidupan karawitan Bali dapat dilihat atas 3 bagian yaitu : kawitan yaitu komposisi bagian awal untuk iringan pepeson atau bagian pertama tampilnya penari kepentas (jawa maju beksan), pengawak merupakan bagian ke dua dari komposisi berikut tarinya yang di Jawa disebut pokok beksan dan bagian ini sering disajikan berulang-ulang. Bagian terakhir disebut pekaad (jawa mundur beksan). Pembagian tiga tersebut juga terkait dengan konsep triangga dalam kehidupan masyarakat Bali juga diacu Windha dalam menyusun Karya karawitannya yaitu dianalogikan sebagai kepala, badan, dan kaki pada manusia, atap, dinding, tembak / batis dalam bangunan. Sedangkan dalam konteks lokasi atau area tempat ada  yang disebut jeroan atau (bagian yang paling dalam), jaba tengah bagian yang diantara luar dan dalam, dan jaba sisi (bagian yang paling luar. Dalam karya karawitan baik konsert karawitan maupun karawitan tari, kawitan dianalogkan sebagai bagian awal, pengawak /bagian yang tengah dan pekaad bagian akhir. Istilah yang mengacu pada konsep triangga tersebut dipertimbangkan atau diperhitungkan kendati dalam penggarapan tidak dilakukan secara ketat / berbeda, karena menurut Windha hal tersebut dapat mengikat seniman dalam melakukan inovasi dan kreativitas. Yang penting teknik garap apapun dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tari yang diiringi. Jika dalam bentuk-bentuk gending-gending klasik pegongan cenderung masih terpola / terpatok, misalnya untuk mengawali sebuah sajian gending jenis gending klasik, umumnya  diawali dengan instrument trompong dan atau Kendang. Jadi kaedah seperti tu masih berlangsung sampai saat ini.  Terkait dalam penciptaan karya karawitan tari menurut Windha seniman tidak terikat secara ketat dengan kebiasaan kebiasan seperti yang dilantarkan didepan namun ada kebebasan yang bisa dilakukan sepert karawitan tari yang diawali dengan tabuhan Riyong, Tabuhan kebyar  dan sebagainya.

Kaedah-kaedah yang terdapat pada gending-gending klasik tidak diacu secara ketat dalam penciptaan karawitan tari karena pada prinsipnya karawitan tari menginginkan kebutuhan gerak tari dapat terpenuhi dan atau  sesuaidengan gerak atau makna yang ingin ditampilkan.Atas dasar itu maka Windha merasa sangat leluasa dalam memperlakukan nada-nada instrument berikut tehnik garap /permainannya dalam mencipta gending seperti yang tampak pada karawitan tari sekar jagat, diawali (kawitan) dilakukan dengan tabuhan instrument riyong. Ciptaan gending-gending gong kebyar sejak era pak Berata sampai Jamannya Windha dan berikutnya umumnya di Bali disebut tabuh kreasi baru. Istilah kreasi baru memberi peluang terhadap seniman pencipta dalam mengekpresikan pengalaman jiwanya mulai dari menentukan instrument, garap serta  berbagai melodi lagu yang dipilih untuk dasar garap untuk mencapai stujuan komposisi karawitan tari maupun karawitan sebagai konser.

TINDAKAN AWAL PENCIPTAAN

Diantara beberapa pokok permasalahan yang di jawab dalam penelitian ini adalah bagaimana Windha mengawali prosess penciptaan karyanya terutama karya dalam bentuk karawitan tari. Pertanyaan tersebut dapat dijawab bahwa tindakan paling awal yang dilakukan Windha dalam mencipta antara lain : merenung dan atau membayangkan /memilih tentang unsur-unsur karawitan yang mana ingin ditonjolkan. Misalnya melodi lagu dari garapan instrument tertentu, dinamika dan juga membayangkan tema tari yang diberikan oleh penyusun tari. Tindakan selanjutnya adalah mencari, mendengarkan dan mencermati rekaman karya-karya karawitan tari maupun konser dari berbagai etnis sehingga dari pengalaman tersebut kemungkinan dapat memunculkan inspirasi penciptaan. Dialog dengan penyusun tari secara terus menerus juga menjadi salah satu syarat penting dalam proses penciptaan karawitan tari. Hasil dialog tersebut dicoba di terjemahkan ke dalam salah satu instrumen kebyar yaitu gangsa secara mandiri untuk menemukan lagu dan garap yang diinginkan, namun tindakan tersebut belum tentu berhasil karena diantara bayangan / angan-angannya besar kemungkinan tidak cocok setelah diterjemahkan / dituangkan dalam instrument. Penjajagan atau eksplorasi seperti itu dilakukan dalam waktu relatif panjang karena keberhasilannya tidak dapat ditentukan secara pasti. Mood juga sangat berpengaruh terhadap kelancaran proses penciptaannya artinya Windha mengaku jika mood tidak muncul, ciptaan akan terhambat karena dalam beberapa hari dia tidak menyentuh instrumen atau tidak melantunkan melodi lagu lagu tertentu (jawa rengeng-rengeng). Mood sulit diduga karena bisa muncul secara tiba-tiba kapan saja, dimana saja yang tidak terencana seblumnya, bahkan saat berada di kamar mandi. Ketika mood tiba-tiba muncul, hal itu tidak bisa dibiarkan /dilewatkan atau ditunda melainkan langsung  dicoba dalam instrumen tertentu dan sementara itu dapat dikatakan berhasil. Namun hal itu juga tidak menjamin, karena dapat berubah ketika ditambah /ditumpangi dengan penjajagan berikutnya, begitu seterusnya sehingga sampai pada tingkat jenuh

FAKTOR PENDORONG MENCIPTA

Dorongan untuk mencipta atau melahirkan sebuah garapan karawitan tari, sebenarnya tidak dapat dipastikan secara  konkrit namun dapat dikatakan bahwa kegiatan  mencipta biasanya ada yang melatar belakangi. Windha dalam menciptakan karawitan tari menyampaikan beberapa factor yang mendorongnya yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Permintaan seseorang untuk berbagai keperluan (tawaran)
  2. Kemauan sendiri tanpa alasan untuk pentas atau mencoba berbagai teknik /garap otak atik
  3. Proyek kompetisi lembaga dalam bentuk hibah
  4. Membantu penyusun tari untuk membuat karawitannya

Selama ini Windha lebih banyak mencipta untuk membantu seseorang dalam memenuhi ciptaan tari seperti yang dilakukan bersama Swasti Bandem. Sebagian besar karya tari Swasti Bandem karawitannya diaransir oleh Windha. Menurut pengakuan Swasti Bandem  melodi-melodi lagu atau garapan kendangan yang diciptakan Windha dapat memberi penguatan terhadap gerak tari yang ditampilkan sehingga tari terassa lebih hidup dan mempunyai greget /bertenaga (Wawancara Swasti Bandem 5 juni 2009 di jalan sandat Denpasar). Lebih lanjut Windha menambahkan bahwa kedepan dia mempunyai kiat  akan berusaha mencipta gending tidak tergantung pesanan dari pihak lain, ibarat membuat stok cadangan manakala ada yang membutuhkan tinggal mengambil atau melatih beberapa kali sehinga tidak banyak berproses sampai karya dipentaskan. Sikap seniman semacam ini tampaknya dalam era global seperti sekarang jarang dapat kita temui karena seniman penyaji atau pencipta banyak mengharapkan tambahan dari kegiatan sampingan seperti mencipta gending untuk kebutuhan festival / lomba dengan cara membina kelompok karawitan di sekolah atau di desa-desa yang ingin tampil dalam berbagai festival atau pentas diantaranya untuk memeriahkan Pesta kesenian Bali (PKB) tahunan di Denpasar Bali. Dalam beberapa putaran acara PKB, karya-karya winda selalu muncul sebagai salah satu repertoar kelompok karawitan tertentu seperti pada PKB tahun 2009 konsert karawitan dan karawitan tari Saraswati, cendrawasih di tampilkan oleh kelompok sanggar Saraswati dari Jakarta. Untuk lomba tari lepas tingkat anak-anak juga menggunakan karya Winda seperti karya Sekar jagat, Cendrawasih sebagai materi lomba yang berlangsung di lobi panggung, Ksirarnawa menjelang PKB berlangsung kendati dengan rekaman, bukan gamelan hidup.

PROSES PENYEBARAN KARYA IRINGAN TARI WINDA

Winda termasuk salah seorang seniman kreatif dan produktif terbukti hampir setiap tahun ia mampu melahirkan karya yang cukup fundamental. Prestasi sebagai pengrawit handal dan pencipta komposisi karawitan Bali menyebabkan dia banyak dikenal di dalam maupun luar negeri yang dibuktikan dengan beberapa kali mengajar gamelan di beberapa belahan dunia. Di samping itu bersama lembaga seni STSI / ISI Denpasar tempat ia bekerja sering melibatkannya melawat ke berbagai tempat di luar negeri seperti : Singapura, Jepang, Hongkong, Thailand, Kanada, Australia dan beberapa negara lain seperti Jerman, Belanda, Swiss, Spanyol, Perancis, Austria, Belgia, Denmark dan Ceko. Sejak tahun 1983 Windha telah memulai kiprahnya dalam dunia penciptaan komposisi karawitan yang disusul kemudian melaju ke karawitan tari bersama ibu Swasti  Bandem. Sebelum karya karawitan tari menjadi idola sebagian kelompok karawitan (seka gong, sanggar tari) di berbagai tempat di Indonesia dan luar negeri, Windha telah banyak berkarya dalam bidang komposisi musik untuk berbagai keperluan seperti pekan komponis muda tahun 1983 dan 1988, bahkan tahun 2001 winda pernah terpilih untuk menampilkan karyanya pada ajang internasional festival on contemporary performing art (art summit Indonesia ke 3 tahun 2000 di gedung kesenian Jakarta). Sejumlah karya-karya Windha dari berbagai jenis dapat disimak dalam laporan penelitian.

PENYEBARAN KARYA :

Banyak cara untuk membuat seseorang menjadi terkenal / populer di berbagai tempat. Salah satunya adalah lewat karya-karya yang dihasilkan. Windha sebagai salah satu seniman penyaji dan pengkarya telah banyak memberikan kontribusi /andil dalam pelestarian seni budaya melalui tindakan nyata yaitu mencipta berbagai jenis komposisi karawitan Bali baik tradisi maupun kontemporer dalam berbagai keperluan. Khususnya terhadap karya karawitan tari yang bekerja sama dengan ibu Swasti Bandem sebagai penyusun tari telah membuktikan karya-karyanya tersebar di masyarakat luas, baik di lembaga-lembaga formal yang memiliki gamelan, di kelompok-kelompok karawitan (Sanggar), maupun desa-desa di Bali. Karya-karya tersebut tersebar bermula dari kepercayaan masyarakat Bali terhadap perguruan tinggi seni (STSI, ISI Denpasar) sebagai salah satu tempat yang terpercaya memproduksi berbagai karya seni yang menjadi tolok ukur /acuan kelahiran karya-karya bermutu dalam bidang karawitan yang siap di tunggu oleh masyarakat pangrawit, atau kantong-kantong penyelenggara kegiatan kesenian di Bali, dan di tempat lain di luar Bali. Penyebaran karya produksi lembaga seni tersebut diantaanya karya Windha juga digalakkan dengan kehadiran perusahan rekaman komersial seperti Bali record yang merekam serta mempublikasikan lewat hasil rekamannya yang di jual di beberapa toko kaset di Bali sehingga memudahkan masyarakat untuk memiliki dan mempelajari isi kaset tersebut. Karya iringan tari Windha diantaranya : Sekarjagat, Belibis, Siwanataraja, Puspanjali, Cendrawasih berupa rekaman audio dan video sangat mudah diperoleh. Proses yang dapat diamati dalam penyebarann karya karya Windha adalah : Kelompok karawitan di desa-desa cukup membeli kaset yang selanjutnya didengarkan berulang-ulang oleh beberapa orang, selanjutnya diajarkan pada kelompoknya. Di samping itu juga ada kelompok karawitan tertentu hyang mengundang Windha, karena tidak puas belajar hanya dari kaset rekaman, mereka ingin diajarkan langsung oleh penciptanya. Mahasiswa tamatan STSI / ISI juga banyak yang mengajar di desa-desa yang kebetulan ketika masih menjadi mahasiswa pernah belajar karya-karawitan tari Windha. Penyebaran karya karya Windha tidak hanya sebatas Bali dan beberapa daerah di luar Bali namun di beberapa kelompok karawitan Bali, di luar negeri seperti kanada, amerika, jepang dan sebagainya. Dalam konteks penyebaran, Windha juga sering bertindak sebagai pembina (Bali penguruk) di beberapa negara seperti kelompok karawitan sekar jaya Amerika.

PENUTUP

Dari beberapa paparan tentang Windha dan berbagai sepak terjangnya dalam dunia penciptaan karawitan dalam berbagai jenis dapat disarikan beberapa butir sebagai berikut : Windha adalah putra desa yang berangkat dari tempaan masyarakat lingkungannya secara otodidak yang potensi seninya yang mewujud kemampuan bermain gamelan hidup subur terakumulatif dalam jenjang waktu yang relatif sangat panjang. Hal itu dibuktikan dengan tindakan nyata yang secara inten menekuni bidang seni dan budaya khususnya karawitan tradisi, tradisi kontemporer, kontemporer sekaligus mengantarkan dirinya menjadi pangrawit Bali yang handal dalam dunia penciptaan maupun sebagai penyaji. Kemampuan dan kepeduliannya  dalam menyikapi persoalan karawitan perlu dijadikan panutan dalam kapasitasnya sebagai dosen seni dalam perguruan tinggi seni di daeranya semua ini dikerjakan dalam rangka turut melestarikan, menumbuh kembangkan dan menyuburkan eksistensi karawitan di mata dunia sebagai asset yang patut dipertontonkan sehingga dapat memberi manfaat yang besar bagi ksejahteraan jiwa manusia dan mahluk hidup pada umumnya dan gaya tarik tersendiri di mata dunia. Penciptaan karya karya Windha khususnya karawitan tari dapat dijadikan salah satu tolok ukur pada saat ini terkait dengan selera masyarkat yang terbukti banyak yang menggunakan atau meminatinya. Kedepan penulis mengharapkan akan lahir Windha Windha yang lain sebagai imbrio dalam konteks kekaryaan karawitan sehingga talenta seni budaya lokal yang mampu bergaung dalam dunia global tidak akan pernah terputus dalam berbagai situasi dan kondisi jaman.

DAFTAR PUSTAKA

C.A Van Peursen. 1988. Strategi Kebudayaan. Jakarta. Kanisius.

Made Bandem. 2003. Identitas Seni dan Pruralisme Budaya, Makalah Seminar Nasional Seni dan Identitas Bangsa FKI ke III di Surabaya

Hastanto Sri. 2008/2009. Artikel Materi Kuliah Pengetahuan Kebudayaan Nusantara ISI Surakarta.

Koentjaraningrat. 1997. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan.

Made Bandem. 1983. Ensiklopedia Gamelan Bali Proyek Penggalian, Pembinaan, Pengembangan Seni Klasik / Tradisional dan Baru Pemerintah Daerah Tk. I Bali

DESKRIPSI FERBAL KARYA TARI DENGAN JUDUL

“ LUH LUWIH ”

Koreografer

Ni Nyoman Wati, S.Kar, M.Sn

Luh luwih adalah sebuah karya tari yang menggambarkan watak / karakter kaum wanita yang baik untuk tataran normal, Dalam bahasa Bali luh luwih berarti wanita baik dalam berbagai aspeknya seperti tingkah laku, sopan santun, taat, melakukan kewajiban sesuai dengan kodratnya sebagai wanita, serta menjunjng tinggi martabat dan kehormatannya sebagai wanita. Disamping itu wanita yang selalu ingin bekerja tidak hanya menggantungkan diri kepada orang lain, serta bertangung jawab atas segala tindakannya. Ketakwaannya terhadap yang Maha Kuasa sesuai dengan keyakinan yang dianutnya sangat diprioritaskan serta selalu ingin menjaga nama baik dalam berbagai hal.

Tari ini berbentuk tari kelompok dengan berbagai komposisi / pola lantai yang ditampilkan. Tari Luh Luwih dipentaskan dalam rangka Seabad Kebangkitan Nasional Merajut Kesenian Sabang Merauke tanggal 17 Mei 2008 di Pendopo Taman Budaya Jawa tengah Surakarta. Secara garis besar koreografi tari ini dapat dibagi menjadi  tiga bagian seperti yang dijelaskan pada alenia berikut :

Bagian pertama

Bagian pertama diawali dengan munculnya seorang penari dari sela sela pangrawit yang sedang mengiringinya dengan perangkat gamelan gong gede ( perangkat gamelan Bali yang berbilah tebal dan lebar serupa sekaten di Jawa). Ragam gerak yang ditampilkan adalah bertolak dari gerakan tari tradisi Bali seperti Tari Baris dan Kebyar duduk. Gerakan gerakan yang diadopsi diantaranya : Ulap ulap, nabdab gelung, Ngeteg pinggel, dan gandang-gandang. Sesaat kemudian muncul empat penari lain yang mengikuti penari pertama dengan melakukan gerakan tari seperti : Gandang gandang (gerakan berjalan kedepan) sampai membentuk posisi berjajar ke samping menghadap kedepan disertai posisi agem kanan, sledet, menoleh  kesudut kiri, ulap ulap, namdab gelung, mengangguk, oyod,, nguncab, tanjak / agem kiri.

Gerak selanjutnya adalah nguncab, agem kanan, malpal menuju posisi pojok kiri ,tiga orang penari membentuk posisi garis lurus kedepan, sedangkan dua penari lainnya berada di sebelah kanan dan kiri sambil melakukan gerakan agem kiri, sledet, menoleh ke sudut kanan, ulap ulap, nabdab gelung, mengangguk,oyod, berputar, agem kanan, ngopak lantang ke kanan dan kiri, berputar ke kiri, malpal sambil membentuk posisi tanjak dengan posisi segi tiga di depan sebelah kanan. Dua orang penari membuat posisi berjajar di belakang sebelah kiri. Gerakan selanjutnya adalah agem kanan, ngalih pajeng kekanan, ulap ulap , berputar kekiri, malpal sambil menuju posisi segi tiga  menghadap ke belakang dan dua orang penari lainnya menghadap ke kiri dan ke kanan dengan gerakan agem kiri. Selanjutnya di lakukan gerakan ngalih pajeng kiri, ulap ulap, mengangguk dan berputar kekanan.

Bagian ke dua

Penari melakukan gerakan agem kanan, tanjak dua, ulap ulap, ingseg, ngumbang sambil mencari posisi yang dilakukan oleh tiga orang penari dengan gerak jengkeng menghadap ke depan, sedangkan dua penari lainnya membentuk posisi berdiri di belakang sambil melakukan gerak ngeraja singa.  Gerakan tersebut diikuti dengan gerakan tanjak dua, ulap ulap, piles, agem kanan, gandang-gandang sambil membentuk posisi segi tiga oleh tiga orang penari, sedangkan dua penari lainnya berada dalam posisi berjajar di sebelah kanan dan kiri menghadap keluar.

Bagian ke tiga :

Pada bagian ketiga merupakan bagian akhir dari tari luh luwih secara utuh, dimana semua penari melakukan beberapa jenis gerakan pencak silat diantaranya ; memukul, melompat, menangkis serta dilanjutkan dengan gerakan perang dengan menggunakan senjata kipas yang terdiri dari gerakan menikam, menghindar, menangkis dan diakhiri dengan gerakan ngeliput, sregseg dalam posisi jongkok dan sebagai gerakan penutup adalah pegangan kipas ditempatkan didepan dada dengan tempo cepat.

Rias dan busana

Tari Luh luwih menggunakan rias muka cantik dan mengenakan iket warna merah yang melambangkan keberanian dalam menghadapi segala tantangan menuju keberhasilan. Menghadapi maksud jahat seseorang yang dihadapi dengan keberanian tanpa banyak berbicara namunn banyak berbuat mulya dan berserah kepada yang Kuasa. Busana tari ini diantaranya : Gelang kana, dibuat dari kulit yang dihiyasi dengan tatahan /ukiran serta prada emas dikenakan di lengan dan pergelangan tangan kanan dan kiri. Bapang adalah busana penutup pundak berbentuk setengah lingkaran yang terbuat dari kain dihiyasi dengan mutiara dan rajutan benang berwarna warni. Tutup dada terbuat dari kain beludru yang dipasang di dada. Mekak sebagai penutup badan terbuat dari kain berwarna putih mengkilap yang dipasang melingkar sepanjang dada dan pinggang. Ampok ampok terbuat dari kulit yang dihiyasi tatahan /ukiran dengan prada emas yang dipasang melingkat pada pinggang bagian bawah yang dilengkapi dengan sebuah sampur. Celana ukuran tiga perempat / bawah lutut yang dikenakan sebelum kain prada. Kain prada berbentuk kancut (ujung kain menjulur kebawah) dan ditarik kebelakang yang ujungnya ditutupi dengan stagen. Kipas prada emas juga digunakan sebagai pelengkap yang dibawa oleh setiap penari.

Musik Pengiring :

Penyajian tari luh luwih di iringin dengan seperangkat gamelan gong gede , sebagai salah satu gamelan yang tergolong langka karena jumlahnya dapat dihitung dengan jari di tempat asalnya di Bali. Gamelan ini berlaras pelog panca nada yang memiliki sistim /pola tabuhan yang khas yaitu sistim tabuhan kekelenyongan (Jawa mbalung). Gamelan ini dipilih dengan harapan dapat mendukung / memberikan kesan / suasana agung, gagah, berat dan mantap dari bunyi setiap instrumen yang relatif tebal dan lebar. Iringan tari luh luwih didukung oleh komunitas pangrawit yang bernama Bramastra dari Jurusan Karawitan ISI Surakarta.

Tata lampu

Tata lampu untuk penampilan tari Luh luwih adalah lampu normal dalam arti tidak ada permainan yang khusus dari koreografi tari, karena cahaya lampu hanya diharapkan dapat memberikan penerangan normal sehingga semua penari dapat terlihat dengan jelas dari berbagai arah.

Pendukung Tari

Tari Luh luwih didukung lima orang penari :

  1. Ni Wayan Kustiyani
  2. Gambuh
  3. Luh Era
  4. Kartika
  5. Retno Utari

DESKRIPSI FERBAL KARYA TARI BERJUDUL

“SEKAR ARUM”

Koreografer

Ni Nyoman Wati, S.Kar, M.Sn

Tari sekar arum merupakan karya tari kelompok putri yang menggambarkan beragam jenis bunga disebuah taman yang indah dengan menebar berbagai aroma yang harum. Secara konseptual sebagai latar belakang penciptaan adalah bahwa perbedaan /keragaman akan dapat memunculkan suasana keindahan yang pada gilirannya dapat membahagiakan hati dalam kehidupan manusia di segala jaman. Dalam konsep ini juga ingin ditanamkan sebuah pemahaman dari manusia untuk tidak mempertentangkan perbedaan , lebih lebih memponis yang lain lebih jelek dari milik kita. Pikiran ini yang ingin dipangkas agar kebahagiaan ,kedamaian didalam kehidupan bersama dapat kita raih. Bunga di taman kendati mereka saling berbeda warna, bentuk, aroma, namun tetap memperlihatkan sifat toleransi ,keharmonisan, yang memancar lewat berbagai aspek keragamannya sehingga mampu menciptakan ketenteraman, kedamaian lahir dan batin.

Berbagai jenis bunga tersebut diharapkan juga dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk kepentingan social kemasyarakatan diantaranya menunjukan rasa cinta kepada seseorang sering diwkili dengan sekuntum bunga mawar serta melakukan persembahan terhadap Tuhan dan berbagai kebutuhan sosial lainnya.  Demikianlah latar belakang pemikiran terciptanya Tari Sekar arum yang telah dipentaskan secara perdana s dalam rangka Panggung Seni Seribu Bunga, tanggal 25 Nopember 2007 di Pendopo Taman Budaya Jawa tengah, Surakarta.

Koreografi, tari Sekar Arum dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu :

Bagian Pertama :

Tari Sekar arum merupakan tari kelompok putri dengan lima orang penari  bagian awal mulai dari  munculnya tiga orang penari berjalan pelan- pelan, disertai dengan gerak tetayungan. Diikuti oleh dua orang penari dari arah berlawanan kiri dan kanan, berjalan berpapasan. Selanjutnya seorang penari berjalan menuju arah tengah depan, sedang dua penari mengambil posisi disamping kanan dan dua penari lainnya disamping kiri. penari yang ada di tengah bersimpuh menghadap kebelakang /membelakangi penonton dengan gerakan ngelo, sesaat kemudian berdiri dengan gerakan ngocok langse, dan membuang sesuatu.

Bagian ke dua

Selanjutnya semua penari membentuk  posisi, tiga orang penari membentuk segi tiga disebelah kanan, sedangkan dua penari berjejer di sudut kiri belakang semua melakukan gerakan ngeraja singa. Berpindah agem kiri, nerutdut, agem kiri, nyeregseg. Gerakan berikutnya ngumbang, nyalud, ngerajasinga, tayungan kanan kiri, agem kiri, agem kanan sregseg, agem kanan, tanjek dua, ngengsog. Gerak selanjutnya ngumbang, membentuk posisi berhadapan dengan gerakan seperti membuang sesuatu, tanjek panjang, ngenjet, agem kanan, ngilen, mentang kanan. Selanjutnya ngumbang, agem kanan, empat orang penari menghadap keluar, seorang penari menghadap kedepan dengan gerakan ngeliput, mentang kanan, tarik ngulur, mentang, sregseg, ngumbang.

Bagian ketiga

Semua penari berjejer menghadap ke depan. agem kanan, serta melakukan gerakan ulap ulap kiri kanan, angsel, ngejat, nyeleog, angsel, empat penari berhadap hadapan, seorang penari menghadap kedepan dengan gerakan ngitir, berputar, ngumbang berganti pasangan, tiga orang penari melakukan gerakan ngepik, dan dua orang penari melakukan gerakan ngegol, angsel, ngejat. Gerakan selanjutnya ngumbang.membentuk satu garis kedepan kemudian pecah menjadi dua bagian, tiga orang penari melakukan gerakan sregseg mentang, dua orang penari melakukan gerakan ngelung, angsel, ngegol. Gerakan selanjutnya ngumbang dengan posisi bebas, angsel, ulap-ulap, melompat, ngumbang, sregseg, ngumbang selesai

Rias dan busana

Semua penari menggunakan rias wajah cantik, dengan hiyasan kepala bunga berwarna marni, ditambah dengan bunga imitasi keemasan. Kedua telinga menggunakan subeng /suweng. Sampur dibentuk menyerupai bunga yang sedang mekar yang diletakkan pada bahu sebelah kiri. Tutup dada, angkin, pending, sampur, yang diselipkan ke dalam pending, kain prada. Setiap penari mengenakan busana dengan warna yang berbeda.

Iringan

Tari sekar arum menggunakan perangkat gamelan Gong kebyar

Tari Sekar arum didukung lima penari

  1. Nining Wulandari
  2. Dian Bayu aji
  3. Nurfatimah
  4. Agustin Intan Kurniawati
  5. Aprilia

.

Posted in artikel | Leave a comment

Bramastra

Bramastra adalah kelompok musik etnis yg dibentuk th 2006 oleh kt saba bersama istri. kelompok ini berdiri atas dasar senang sama senang untuk memfasilitasi minat kawan kawan dl menyalurkan keinginannya dl mempelajari musik. dl hal ini dimulai dari musik Bali. tak mustahil etnis lain akan diambah. mereka telah pentas diberbagai tempat, Jatim, jateng dilingkungan kampus dan sekitarnya. Anggotanya sllu berubah karn ada yg tamat ada yg masuk. namun mereka siap pentas kapan saja dimna saja.

Posted in artikel | Leave a comment

Cak Rama sesat

Cak rama sesat adalah sebuah garapan cak yg menyelipkan cerita ramayana saat rama dl pengasingan di hutan dandaka bersama sinta dan laksmana. ajudan Rawana raja bengis alengka manpu mengecoh Sinta dg siluman kidang shg rama dimohon menangkapkannya. Dasar raja licik memperalat Rama yg akhirnya sesat dlm kejauhan shg pisah dg Sinta. Rahwana muncul menyamar sbg pendeta dekil minta belas kasihan Sinta. Siapa sangka setelah mendekat Sinta diculik rawana terbang ke Negara Alengka.

Posted in artikel | Leave a comment

metode praktik meguru kuping

Metode pembelajaran m kuping adalah salah satu cara belajar praktik karawitan yg menghandalkan pendengaran dan melihat pengampu dl memberi contoh peragaan gending yg diajarkan bagian perbagian. pebelajar dituntut kepekaannya menangkap contoh dan mencoba sendiri. dalam hal ini pebelajar dapat membuat catatan sendiri sesuai dg yg mereka tangkap sebagai media pengingat. Kehadiran mhs sangat dituntut sebanyak banyaknya. keunggulan metode ini adalah gending tidak mudah hilang, serta mereka dp main dg enak tanpa melihat notasi. Dikalangan masy Bali metoda belajar main gamelan semacam ini sangat populer yang sangat memungkinkan pebelajar dp main dgn enak penuh ekpresi dan melakukan atraksi dgn lega dan kompak. Dalam hal main gamelan pangrawit Bali tidak hanya ingin menampilkan alunan berbagai instrumen yg masing masing ,tapi ekpresi dan gaya mereka sangat mendukung semaraknya penampilannya, spr mengangkat tangan, getaran jari jemari, pandangan mata, gelengan kepala dsb luluih jadi satu penampilan yg utuh dan memukau.

Posted in artikel | Leave a comment

Hello world!

Welcome to Berpacu dlm Kreatifitas dan Prestasi. Ini adalah halaman pertama posting. Revisi atau hapus halaman ini, kemudian silahkan ngeblog dan saatnya ISI Surakarta mendunia lewat dunia maya….

UPT. Pusat Informatika (PUSTIKA) ISI Surakarta

Posted in Uncategorized | 1 Comment